Era milenial ialah masa anak – anak muda yang tumbuh dikelilingi berbagai teknologi maju dimana semua hal tentang traveling berada dalam ‘genggaman’ mereka, mengikuti tren – tren yang sedang terjadi melalui digital. Di era digital dan media sosial ini, travelling dapat dijadikan ajang untuk memperlihatkan eksistensi diri. Terutama di social media dengan feeds yang diatur sedemikian rupa sehingga terlihat menarik.

Pertumbuhan pariwisata ini dipengaruhi oleh generasi millennial. Milenial sendiri merupakan potensi pasar yang besar. Milenial menginginkan sebuah kemudahan dan juga pengguna teknologi digital dari ujung ke ujung. Tanpa digital, kita tidak akan bisa bertumbuh semakin tinggi. Dan kita sulit bersaing dengan pasar dunia yang semakin ketat.
Sebagai salah satu penyumbang devisa terbesar di Tanah air, pemerintah melalui Kementrian Pariwisata mengembangkan pariwisata melalui digital, dimana pada era milenial yang menginginkan hal praktis dan dapat dijangkau. Wisatawan yang berkunjung ke Indonesia factor terbesarnya adalah melalui digital atau social media. Contohnya pada pemesanan tiket menuju tempat wisata Garuda Wisnu Kencana Culture Park, yang dapat melalui salah satu aplikasi Traveloka. Para wisatawan dapat langsung memilih tempat dan harga yang diinginkan dimanapun para wisatawan berada.
Perjalanan yang melalui dari Walk-in Service yang menyediakan akomodasi untuk menginap ataupun berkunjung ke destinasi pariwisata sedikit demi sedikit berkembang dan merambah dunia aplikasi atau social media untuk memudahkan berkomunikasi kepada wisatawan luar.
Para wisatawan dapat langsung memilih tempat dan harga yang diinginkan dimanapun para wisatawan berada. Melalui aplikasi yang tersedia sudah tertera daftar atau pilihan bagi para wisatawan ingin berwisata atau menginap. Dengan adanya digital aplikasi di bagian pariwisata, para wisatawan dapat menyalurkan opini terhadap destinasi yang dikunjungi kepada wisatawan lainnya, sehingga sebelum berkunjung para wisatawan dapat melihat review terlebih dahalu.
Di era milenial destinasi pariwisata yang menarik dan indah, dapat cepat berkembang dan populer di kalangan milenial dengan tunjangan dari para wisatawan yang mengunggah melalui digital, sehingga dapat menarik wisatawan lainnya untuk berkunjung. Seperti halnya yang terdapat pada destinasi pariwisata Pondok Edelweis Bali. Dengan banyaknya unggahan dari para wisatawan yang pernah berkunjung, Pondok Edelweis menjadi popular di Bali maupun luar Bali.

Para milenial dan kebiasannya dalam bermedia social dan mengikuti sesuatu yang baru, sangat membantu dalam pertumbuhan pariwisata Republik Indonesia. Secara tidak langsung menjadi PR bagi travel digital. Bahkan tidak jarang para milenial(atau yang disebut “travel blogger” atau “travel vlogger”) menampilkan keindahan Indonesia dalam video dan memberi kiat – kiat bagi para wisatawan yang ingin melakukan perjalanan ke destinasi pariwisata Indonesia dan diunggah di akun social media. Sehingga sedikit tidaknya dapat meningkatkan kunjungan para wisatawan ke destinasi pariwisata Indonesia.

Pemerintah dan masyarakat setempat yang memiliki usaha dibidang pariwisata pun kian mempercantik tempat wisata yang dapat menarik para milenial sehingga dijadikan tempat yang sebagai “instagramabble”,sehingga digital menjadi sarana promosi karena dunia sudah berada di era digital dan mendekati konsumen dengan tepat adalah melalui social media.
Milenial menggunakan teknologi digital untuk mengatur perjalanan mereka. Era milenial pun mengubah pola perjalanan menjadi travel digital. Banyaknya penyedia jasa perjalanan online di dunia maya, semakin membuktikan bahwa generasi milenial memiliki andil dalam memajukan industri pariwisata.
Travel digital di era milenial menjadi tantangan besar bagi pelaku bisnis pariwisata di Tanah Air untuk menyesuaikan model bisnis mereka sesuai dengan tuntutan pasar. Seperti halnya para milenial menggunakan jasa – jasa perjalanan wisata dengan aplikasi, dimana cara – cara lama dan konvensional tidak lagi dilirik, digantikan oleh medium yang lebih terkini seperti platform digital.

Sebagian besar masyarakat melakukan promosi melalui digital. Perilaku wisatawan yang datang ke Indonesia untuk look, book, and pay sudah dilakukan secara digital. Gaya hidup ini mengubah strategi dari konvensional menjadi go digital. Untuk menjangkau wisatawan milenial harus disertakan dengan milenial. Maka dari itu para pelaku travel digital harus memahami cara mempromosikan bisnis mereka dalam dunia digital untuk menarik para wisatawan di berbagai belahan dunia.
