Dampak Industri 4.0 bagi Pariwisata

Salah satu sejarah terbesar di dunia adalah adanya Revolusi Industri. Tak dapat dipungkiri bahwa kehidupan kita tidak bisa lepas dari benda dan alat yang kita gunakan untuk mempermudah aktivitas dan pekerjaan setiap manusia, dimana hal tersebut adalah hasil dari revolusi industri. Berawal pada tahun 1784 dengan ditemukannya mesin uap dan alat-alat mekanisasi, dan terus berkembang seiring waktu. Dan saat ini kita berada pada masa revolusi indutri 4.0 ditandai dengan kebutuhan teknologi melalui kecanggihan digital dan internet yang sudah kita rasakan hingga saat ini.

Revolusi industry 4.0 belakangan sangat diperbincangkan, konsep “Industri 4.0” dikenal dengan nama “Revolusi Teknologi” dan “Revolusi Digital”. Pertama, kemajuan yang paling terasa adalah internet. Semua komputer tersambung ke sebuah jaringan bersama. Komputer juga semakin kecil sehingga bisa menjadi sebesar kepalan tangan kita. Kita bisa melakukan segala hal dengan ringan dan dimanapun. Teknologi juga sudah merambah besar di beberapa perusahaan. Ketika teknologi informasi (TI) dan teknologi operasional (OT) bertemu, perusahaan mulai menemukan cara baru untuk terhubung.

Dalam dunia pariwisata pun tidak bisa lepas dari penggunaan teknologi atau digital. Dapat dilihat pada era ini penggunaan promosi yang sebagian besar melalui digital. Sehingga cara tradisional sedikit dilirik oleh para wisatawan. Contohnya saja OTA (Online Travel Agent) yang sudah sangat berkembang, yang semakin kuat dan jauh meninggalkan bisnis travel agent konvensional.

Revolusi industry 4.0 sangat berdampak bagi pariwisata Indonesia. Karena di era ini segala sesuatu dimulai dari digital. Para wisatawan yang berkunjung mengetahui melalui digital atau kiriman foto yang diunggah di akun social media. Dengan mempermudah para wisatawan berkunjung ke Indonesia, maka dari itu Kementrian Pariwisata Indonesia mendorong Pariwisata 4.0 agar membawa hasil signifikan pada sektor pariwisata Indonesia. 

Dengan adanya industry 4.0 pariwisata tidak bisa lepas dengan penggunaan teknologi. Dalam memesan hotel, tiket, ataupun jasa travel di era sekarang menggunakan aplikasi. Hal ini memberi dampak positif bagi bidang pariwisata, dengan cara yang mudah dan bisa dimana saja, sehingga para wisatawan mancanegara dapat terjangkau. Sehingga para pelaku di pariwisata dituntut untuk mengetahui hal – hal tentang teknologi atau digital untuk memudahkan berpromosi atau berkomunikasi dengan wisatawan.

Namun dengan memasuki industry 4.0, dibutuhkan unsur lain, salah satunya adalah Generasi milenial yang sudah berkompeten dalam industri revolusi 4.0. Generasi Milenial menjadi paling dominan dalam penggunaan internet. Sehingga pariwisata berada dalam industry 4.0 dengan adanya generasi milenial.

Berwisata dengan cara – cara lamapun mulai tertinggal. Cara-cara berwisata lama perlahan mulai ditinggalkan dan adanya teknologi seperti ketersediaan wi-fi, sinyal 4G yang kuat, serta beragam travel apps sangat dimanfaatkan oleh wisatawan masa kini. Sehingga hotel – hotel menunjang fasilitas Wi-Fi gratis untuk menarik wisatawan untuk menginap.

Wisatawan global menggunakan handphone-nya untuk selalu berkomunikasi dengan teman dan keluarga, meng-install aplikasi-aplikasi traveling sebelum bepergian, dan membagi konten-konten dan pengalaman berwisatanya kepada teman dan keluarga, salah satunya melalui media sosial. Sehingga masyarakat yang berada dalam lingkup destinasi pariwisata dapat tanggap mengenai digital dan teknologi guna menunjang pariwisata.

Dampak industri 4.0 bagi pariwisata memiliki dampak yang positif karena menyangkut generasi milenial masa kini, dan juga untuk meningkatkannya pariwisata Indonesia, yang memiliki keindahan alam yang sangat luar biasa yang menjadi favorit para turis pencinta alam. Sehingga dengan ini dapat mempromosikan destinasi pariwisata Indonesia kepada seluruh dunia.

Dengan semakin majunya pariwisata memasuki industry 4.0, pemerintah memperbaiki fasilitas infrastruktur, landas pacu bandara, terminal, jalur trasnportasi, hotel, dan lainnya, untuk menyambut para turis dengan suasana yang tentram.

Karena memasuki industry 4.0, hotel – hotel pun mulai berlomba – lomba menunjukkan yang terbaik dan semenarik mungkin untuk para wisatawan melalui media social. Hal ini pun menjadi ajang kompetisi tidak hanya dalam negeri maupun luar negeri. Tetapi dengan hal ini dapat menarik wisatawan asing untuk berkunjung. Perubahan dalam wisatawan berkunjung mulai berubah dari yang group tourism menjadi individual tourism.

Perubahan perilaku konsumen terlihat ketika mencari dan berbagi semua melalui digital. Industri travel agen juga tidak lagi bisa mengandalkan walk in service untuk reservasi tiket dan memilih paket wisata. Semua sudah berubah dengan digital. Walaupun semua menjadi digital, tetapi penjualan dengan cara tradisional masih tetap dilakukan, karena wisatawan dapat bertanya berbagai hal secara langsung.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai